Raga telah lelah atas kejadian sehari ini, malam ini dia beristirahat penuh
Raga menengok kepada jantung, letih sekali sepertinya, jantung terus memompa darah dimana malam adalah waktunya istirahat
Di matanya terselip wajah paru-paru, mengapa paru-paru terus beraktifitas bahkan raga saja yang sangat membutuhkan paru-paru sudah separuh sadar
Raga hanya bisa menghela napas dalam-dalam, ketika matanya tertuju pada seorang yang terus berlari, bekerja rodi, tanpa ada batas waktu tuk beristirahat sejenak sebelum memulai hari baru
Hati,"Perih rasanya melihatmu begini, luluh lantah, terantai dengan beban yang begitu berat, dunia seakan tak berhenti memberi beban,"
Raga meneteskan setitik air yang terasa asin dari kantung matanya
"Bila saja aku bisa memberhentikan aktifitas hidup ini sejenak saja, kan kuajak kalian untuk menikmati indahnya celah hari dimana kita hanya bisa terbaring diatas kasur merah yang berselimut rumput.."
Raga terus menerus menguap,
"Tapi mengapa? Mereka adalah bagian dari ku, aku tidak ingin di saat aku terlelap tapi mereka terus bekerja keras"
Keluh raga menyesali kenyataan, raga tidak ingin seperti dunia ini, di saat bagian selatan tertidur lelap ,sedangkan di bagian utara mereka terus bekerja keras melanjutkan hari, raga ingin diadakan hari dmana semuanya bisa beristirahat bersama, merasakan tidak ada beban hidup sejenak sebelum beban itu d tambahkan,
Baiklah itu dunia raga, tapi inilah dunia, semua harus tetap di jalani, karena pita kehidupan ini terus digulung
Gue nggak kejedot kok.
Gue nggak kesambet apa-apa.
Gue nggak abis keserempet helikopter, tiba-tiba bisa nulis sekeren ini.
Karena ini bukan karya gue, ini tulisannya si Bagus. Iya, Bagus yang gue tulis di post sebelumnya. Keren banget bo. Ada banyak puisi lain yang bener-bener waw, kapan-kapan gue post lagi deh kalo orangnya ngijinin lagi haha.
Sunday, 21 June 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment