Thursday, 17 March 2011

Kenapa?

Dari kecil, gue suka banget bertanya. Tentang apa aja.
Tentang kenapa air laut rasanya beda sama air dari kran.
Tentang kenapa matahari nggak jatoh ke bumi.
Tentang dari mana bayi berasal.
Tentang kenapa manusia harus punya agama.
Tentang kenapa dalam Bahasa Indonesia, tempat kita duduk disebut 'kursi', bangunan tempat tinggal disebut 'rumah', kenapa bunga yang ini namanya 'mawar' dan yang itu namanya 'melati', dan sebagainya.
Tentang kenapa orang bule dan orang Indonesia bisa beda.
Tentang kenapa manusia harus mati.

Dan waktu orang yang gue tanya nggak bisa jawab pertanyaan gue, gue bakalan pikirin sendiri sampai gue punya pemahaman sendiri.

Buat gue, hidup itu untuk bertanya.

Waktu SD, gue pernah nanya ke nyokap, 'Kenapa kok manusia harus mati? Dan kenapa manusia mati di umur yang gak sama?' Nyokap gue bilang, 'Umur itu yang ngatur Tuhan.'

Nggak tau kenapa, pertanyaan 'kenapa manusia harus mati' itu nempel terus di kepala gue. Gue nggak puas sama jawaban nyokap gue. Tapi sayangnya waktu gue tanya lagi ke orang lain, jawabannya kurang lebih sama. Gue jadi kesel sendiri karena gue pengen tau, tapi nggak tau-tau. Tapi namanya juga anak SD, beberapa minggu kemudian juga udah lupa.
Waktu gue udah lebih besaran dikit dan udah bukan anak SD lagi, gue masih sering bertanya-tanya dan berpikir, kenapa manusia harus mati. Usaha gue buat mencari tau alasan kenapa manusia harus mati itu banyak terbentur halangan, salah satunya dianggap aneh sama orang-orang. Sedihnya. Tapi gue penasaran.

'Kenapa manusia harus mati?'
Sebenernya banyak sih pendapat-pendapat orang yang udah gue denger.
Karena sudah dipanggil Tuhan.
Karena hidup itu tidak kekal.
Karena tugasnya di dunia sudah selesai.
Karena takdirnya memang begitu.
Karena jantungnya sudah berhenti.

Tapi gue belom puas.
Karena sudah di panggil Tuhan? Karena sudah takdir? Karena tugasnya sudah selesai? Lantas kenapa ada orang yang udah tua tapi nggak mati-mati, tapi ada juga bayi yang meninggal bahkan sebelum dia dilahirkan?
Karena jantungnya sudah berhenti? Itu sebab, bukan alasan.

Gue sering berpikir kalau semua hal di dunia ini mengarah kepada satu hal; kematian.
Gue percaya dunia ini fana. Semua yang ada di dunia ini ada akhirnya. Bahkan satu siklus hidup yang katanya berputar terus juga suatu saat akan berhenti--mati. Pohon yang besar dan hijau suatu saat bisa kekurangan air dan mati. Kucing peliharaan yang disayang dan dirawat banget sama pemiliknya bisa aja tiba-tiba ketabrak mobil majikannya sendiri, lalu mati. Peradaban suku Inca dan Maya yang segitu hebat, sekarang sudah tinggal sejarah, mati. Uni Soviet, negara yang dulu adikuasa, sekarang terpecah belah, lalu mati. Bahkan manusia, makhluk yang punya akal budi, bisa dilumpuhkan sama virus dan bakteri yang jelas-jelas mikir aja nggak bisa, dan akhirnya mati.
Lalu, buat apa ada kalau akhirnya tiada?

Bahkan dari zaman dulu, orang-orang sudah berpikir tentang konsep kematian. Orang Mesir kuno percaya, waktu seorang raja mati, dia akan jadi dewa di khayangan sana. Banyak kubur-kubur kuno yang nggak hanya menyimpan jasad yang umurnya ratusan tahun, tapi juga bekal buat di alam 'sana'. Dari sini gue berpikir, bahwa dari ribuan tahun yang lalu, manusia sudah percaya dengan adanya kehidupan setelah kematian. Ya nggak sih?

Kalau menurut pemikiran gue, dari sinilah lahir konsep agama dan kepercayaan. Karena manusia percaya bahwa ada sesuatu yang lain setelah secara fisik kita mati. Ada kehidupan yang selanjutnya. Di dalam agama Kristen, ada yang namanya kehidupan kekal. Sedangkan dalam agama Buddha dan Hindu, ada yang namanya reinkarnasi. Ada kehidupan lain setelah kematian, itu yang bisa gue ambil.

Seperti kata ilmu fisika, energi itu kekal, nggak ada habisnya, hanya bisa berubah bentuk. Apapun di dunia fisik bisa mati, tapi tidak dengan energinya. Energi hanya bisa berubah bentuk, kata hukum kekekalan energi. Dan kalau gue pikir, disinilah titik temu teori ilmu pengetahuan sama penjelasan-penjelasan spiritual; energi nggak akan musnah, ada kehidupan setelah kematian fisik, energi yang tertinggal setelah bentuk fisiknya mati cuma akan berubah bentuk, nggak ada yang tahu jadi apa, tapi yang jelas nggak akan habis dan mati--hanya berkonversi.

Seperti air,
kalau membeku namanya es, tapi dia tetap air.
Kalau menguap, seakan-akan dia menghilang dan nggak ada, tapi dia ada. Dia sejatinya tetap air, dan tetap ada.
Dalam bentuk lain.

Jadi Gab, kembali ke topik utama, menurut lo kenapa manusia itu harus mati?

Kematian itu cuma kendaraan menuju kehidupan yang selanjutnya. Kemana? Nggak ada yang tahu.
Jadi, menurut hasil pemikiran gue setelah sekian lama;
Manusia harus mati karena kematian adalah jalan satu-satunya buat kehidupan selanjutnya.
Kita mati, kita berkonversi.
Jadi apa?
Ya, nanti juga tau sendiri kalau udah mati.

Gue seneng, akhirnya at least untuk sekarang ini,
gue nemu jawaban buat pertanyaan yang dari kecil jadi misteri buat gue.
Gue senang bertanya, dan gue lebih senang lagi waktu pertanyaan gue terjawab.
Dan rasanya lebih puas lagi kalau kita menemukan jawabannya dari proses berpikir, bukan dari jawaban mentah orang lain.

Tapi sekarang gue jadi bertanya-tanya lagi;
'Buat apa manusia hidup kalau akhirnya harus mati?'

No comments: