Friday, 18 March 2011

Ketika hati mulai meninggi


Waktu lo ngerasa bangga sama apa yang lo punya
Waktu lo ngerasa melayang tinggi, dipuji karena apa yang lo bisa
Waktu lo ngerasa lo pasti bisa karena lo yakin lo sendiri mampu

Jangan sombong.

Manusia tidak punya alasan sama sekali untuk menjadi sombong
Karena ada yang punya kuasa mengambil semuanya dari manusia
Bahkan hal-hal yang paling dibanggakan di dunia ini
Bahkan hal-hal yang paling dipegang erat selama ini


Hati-hati dengan hati.


Ketika hati lebih tinggi dari kepala, manusia pikir dia bisa segalanya. Aku kaya. Aku cantik. Aku tampan. Aku penuh talenta. Aku lahir dari keluarga yang terpandang. Aku kuat. Aku terkenal. Aku pintar. Aku punya pacar. Aku punya banyak teman.
Lalu ia jadi besar kepala.
Lalu dia pikir dia bisa segalanya.
Lalu mulailah manusia menganggap enteng semuanya.

Ketika hati sudah berada di posisi tinggi, manusia mulai menganggap remeh hal-hal di sekitarnya. Bahkan hal-hal yang untuk orang lain yang hatinya normal, perlu diberi perhatian lebih. Padahal kepalanya sudah memberi sinyal kepada si manusia, secara logika dan perhitungan, dirinya tidak akan sanggup. Perlu ada yang di-upgrade karena kapasitasnya tidak cukup.
Tapi sang hati sudah terlalu tinggi. 'Kapasitasku sudah sangat besar, apa yang perlu dibenahi lagi?'-- kata sang hati yang lama-lama makin tinggi.
Bahkan nasihat pun sudah tidak mempan. Si hati sudah terlalu tinggi. Tidak ada yang sanggup melempar si nasihat sampai ke ketinggian si hati.
Kepala memperingati lagi; kalau si manusia perlu minta tolong. Minta pertolongan kepada yang lebih kuat, yang lebih pintar, yang lebih bertalenta, yang lebih bisa. Tapi hati membantah, 'Memang ada yang lebih dariku? Aku tidak pantas berada di posisi pemohon--peminta, harusnya aku yang memberi semuanya!'

Si hati yang sudah tinggi itu lupa kalau ada disana, yang bisa mengambil semuanya.
Dia yang punya seluruh kekayaan dunia. Dia yang memberi talenta. Dia yang menempatkan manusia di tengah-tengah keluarga yang berada. Dia yang mengizinkan manusia berteman. Dia yang membuat si manusia menjadi rupawan dengan tanganNya.
Dia yang memberi.
Dia juga punya kuasa untuk mengambil kembali.

Ketika teguran lembut sampai hardikan pun tidak mempan, kadang Dia harus menampar.

Mudah saja Dia mengambil kembali apa yang sudah Dia berikan kepada manusia yang sudah tinggi hatinya itu. Walaupun si manusia yang sudah tinggi hatinya itu berusaha memegang semuanya dengan erat.

Bahkan ia bergantung kepada semua yang dia dan hatinya yang sudah tinggi itu banggakan.

Dan ketika Dia-yang-Punya-Kuasa mengambil semua yang ia banggakan,
manusia itu tidak punya tempat bergantung lagi.

Dia jatuh.




Jangan sampai kena tampar karena terlalu mengagung-agungkan sesuatu yang sebenarnya, hanya pemberian semata.

Hati-hati dengan hati.

No comments: