Monday, 14 November 2011

Less than slash three

Halo.
Apa kabar semuanya? Baik?

Saya tidak.

Sudah berapa lama gue nggak nulis disini? Masih adakah yang mau baca?
Sebenarnya gue malu, nulis disini cuma untuk mengeluh.
Tapi rasanya blog ini adalah teman paling setia, Terima kasih ya.

They say the most pathetic people on earth are those who are broken-hearted.

So, I am one of them now.

Rasanya sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit.
Sakit.
Sakit.
Sakit.

Tapi mungkin tidak ada yang bisa mengerti.

Bayangkan;
how would you feel if this is you?

dulu kamu selalu bermimpi untuk mendapatkan sesuatu, tapi rasanya sesuatu itu terlalu jauh. tapi tiba-tiba semuanya menjadi nyata--terlalu nyata--sesuai dengan mimpi selama ini. semuanya indah. kamu akan bersyukur untuk setiap detilnya karena semuanya sesuai dengan yang ada di doa-mu, kamu tidak akan bisa minta yang lebih baik lagi. bukankah itu menyenangkan? lalu kamu akan mulai menggenggam erat semuanya, takut sesuatu yang lain merebutnya darimu. memberi hati sepenuhnya. memikirkannya sepanjang malam. bersyukur setiap kau mengingatnya. lalu tiba waktunya dimana kamu harus berpisah--memang bukan perpisahan yang sebenarnya--hanya dipisahkan oleh berkilometer jarak, namun semua itu tak terasa karena kamu tahu walaupun terpisah jarak jauh di sisi terdalam ada namamu disitu. rasanya aman. lalu kamu mulai menghitung detik untuk menunggu kapan kamu bisa menghitung mundur kilometer-kilometer yang memisahkan kamu dengan sesuatu yang kamu genggam erat itu. kamu akan selalu menantikan saat-saat dimana kamu bisa menatapnya dengan mata kepala, menggenggamnya secara nyata, mendengarnya memanggil namamu yang mana suaranya dirambatkan oleh udara, bukan sekedar jaringan yang terkadang terputus dan memaksamu untuk mengulang kata-kata. ketika waktunya habis, kamu akan selalu berat meninggalkannya. seperti melawan gravitasi. ya, gravitasi. karena pusat hatimu ada padanya. tapi tidak apa-apa, karena kamu tau suatu saat kamu tahu kamu akan kembali. namamu masih ada disana. kamu hanya perlu menunggu, mengitung kembali detik-detik untuk menghitung mundur kilometer-kilometer.


tapi suatu ketika sesuatu itu direbut paksa dari tanganmu. sesuatu yang selama ini kau pegang erat. bahkan pusat hatimu telah kau tinggalkan setitik di dalamnya. semuanya hilang, habis, luluh, lantak. kamu akan terus berusaha menggengam dan meraih, tapi kamu akan merasa tak berdaya saat tau, tidak ada sesuatu yang merebutnya darimu, bahkan dia sendiri yang berontak dari genggamanmu. tanganmu melemas, tak akan mampu menggenggam apapun, meski hanya untuk bertumpu.


semua mimpi yang waktu itu menjadi nyata, pergi.
bahkan pusat hatimu yang kau tinggalkan disana juga ikut hilang.
dan gravitasi tidak lagi ada.
kamu akan melayang-layang tak tentu arah seperti benda-benda angkasa.
oh, lebih buruk. bahkan benda angkasa punya arah.

----














Halo, yang disana.
Aku cuma bisa meringkuk di pojokan sepanjang malam dengan topi serigala dan sweatermu.
Mungkin bau kamu masih tersisa sedikit disana.
Dingin.
Aku kesepian.

Aku cuma mau mendengar semenit-dua menit suara kamu supaya aku bisa tidur, tapi mungkin aku terlalu banyak mau.

Ada yang aneh dari mataku malam ini. Ada air yang tidak mau berhenti mengalir daritadi.

No comments: