Friday, 20 January 2012

Surat Terlambat

Hai, kamu.

Sebenarnya aku sudah menulis banyak, merangkai kata dan berperang dengan koneksi internet yang tidak bersahabat. Menulis sambil membayangkan dan menerka reaksimu saat membaca suratku. Mungkin kamu akan terkikik geli dan menganggapnya lucu. Entahlah. Yang jelas aku harus menghapus semua dan menyusun kata dari semula.

Aku menyesal tidak mengirimkan surat itu segera. Tadinya aku punya rencana untuk menghadiahkan surat itu kepadamu pada tanggal yang kita suka. Tapi, yah, rencana tinggal rencana. Aku lupa, dunia ini penuh hal yang tidak pasti. Banyak yang bisa terjadi dalam hitungan hari.

Saat kamu membaca surat ini, mungkin kita sudah kembali terpisah beribu jarak seperti dahulu. Tapi sekarang ada yang hilang. Tidak ada lagi yang akan merengek manja kepadaku, "cepat pulang". Bahkan mungkin aku tak mengerti lagi apa arti kata pulang. Pulang bagiku dulu adalah menghitung mundur jarak buat kembali ke dekatmu, tempat dimana hatiku nyaman. Dulu. Sekarang aku takut, takut melihat bahwa di ujung jalan pulangku, ada pintu yang tertutup.

Aku cuma bisa berharap suatu saat aku bisa kembali pulang. Ya, pulang seperti waktu itu. Karena sebenarnya dari setiap huruf yang aku taruh di surat ini, ada beribu rindu yang kuharap bisa kusampaikan. Selama menunggu kau menemukan rinduku di setiap keping huruf yang kau eja, aku hanya bisa bertanya-tanya dalam hati apakah rasa yang dulu kau simpan buatku masih ada.

Aku masih akan terus berharap suatu pagi aku akan menemukan pesan darimu yang sangat kurindukan; cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi.

Jika suatu saat kau merindukan kita yang dulu, kau tau dimana kau harus mencari. Aku akan selalu disini, meraba jalan pulang ke hatimu sambil memegang surat lama yang tak jadi kukirimkan kepadamu.

Aku tidak keberatan menunggu.



Aku sayang kamu.

No comments: